Jumat, 20 April 2012

Is Red Velvet Cake Overrated? Or Is It Just Me?



I’ve been tempted to make this gorgeous cake ever since the first time I saw it. The striking dark red color with fluffy white topping make it seems so delicious.
Yesterday I finally made it, but after I bit a bite I have to say I’m not impressed.
Of course it’s pretty. The cake itself is really moist and tender, it almost melts in your mouth. It has a wonderful texture and colour. But it lacks of flavour, it doesn’t play with my taste buds the way I think it should. Not the type that strikes and makes you remember it for the rest of your life. heheh.
I mean, it’s nice but it happens to be an ordinary cake.
Maybe I should try another recipe and give a different topping since I didn’t enjoy the cream cheese frosting much
 
Cheers! ^^

Kamis, 12 April 2012

Kisah Bang Maman dan Anak SD

Akhirnya.. kembali menulis blog setelah berabad lamanya cuma nulis berita. heheheh

Sejak beberapa hari lalu jari rasanya gatel banget kalau dipakai nulis berita. hehehe. Jenuh kali ya setiap hari yang ditulis antara omongan kepala Dinas A-Z, Om Kumis, Humas Polda, atau cerita-cerita pembunuhan dan kecelakaan yang bikin susah tidur.

Tapi hari ini, saat gue piket malam dan sampai jam 4 sore masih gabut di kantor belum ada kerjaan... ada satu berita yang menggelitik banget untuk dikomentarin.

Kata lapak sebelah, ada orang tua murid yang protes karena ada cerita di buku pelajaran Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ) kelas 2 SD yang nggak layak dibaca anak-anak. Judulnya "Bang Maman dari Kali Pasir"

Begini kira-kira ceritanya:

Seorang pedagang buah bernama Bang Maman punya anak gadis yang cantik jelita bernama Ijah. Layaknya cerita telenovela, Ijah menikah dengan lelaki kaya bernama Salim, putra juragan di Kali Pasir bernama Pak Darip.

Nasib baik ternyata tak berpihak pada sejoli Ijah dan Salim. Setelah Pak Darip meninggalkan dunia yang fana, putranya yang terlalu lugu (apa bodoh?) mempercayakan kebun ayahnya yang sangat luas pada seorang pegawai, Kusen namanya.

Bak sinetron, Kusen dan istrinya berkhianat. Kebun itu malah dijual dan dia kuasai hingga akhirnya Salim jatuh miskin.

Mungkin karena pada dasarnya Bang Maman memang mata duitan, ia menyuruh anaknya menceraikan suaminya yang jatuh miskin. Tetapi Ijah yang terlanjur cinta pada Salim menolak!

"Nggak mau Babe, aye tetep cinta ama Bang Salim!" begitu dialog yang terbayang di otak gw :P

Entah apa isi otak Bang Maman, ia menyusun strategi untuk memisahkan Ijah dan Salim. Dia mengutus perempuan bernama Patme untuk menjadi istri jadi-jadian Salim.

Akhirnya, Ijah yang tak rela dimadu pun menceraikan Bang Salim.

-____-"


Kantor pun mengutus seorang reporter untuk mengkonfirmasi cerita ini. Tahu nggak apa tanggapan dari salah seorang guru yang menggunakan buku itu di sekolah?

“Cerita itu kan cerita rakyat,” kata seorang, wali kelas 2 SD Angkasa IX, Kamis, 12 April, 2012.

Haduuuh... Gw sih merasa pembelaan macam itu sama sekali ga bisa diterima. Maksudnya kalau cerita rakyat apapun boleh masuk gtu? Macammanaaaa...

Kata teman reporter lain, versi lebih halus dari cerita Bang Maman ada di buku terbitan Erlangga. Di buku itu diceritakan bahwa Salim tak kebagian warisan karena dikuasai oleh Kusen. Akhirnya meski jatuh miskin, Ijah tetap setia pada suaminya, Salim.


Oke... cerita ini memang nggak memuat istri simpanan atau strategi licik ala sinetron. Tapi tetep aja deh.. 

WARISAN??

Anak kelas 2 SD bukannya diajarin tentang semangat bekerja atau sekolah malah diajarin tentang warisan?? Cupet bangeeet!

Ini pendapat gw pribadi, pantas aja orang Indonesia ga maju-maju. Dari kecil diajarin uang gampang sih.

Duh.


Senin, 05 Desember 2011

Mbak, Happy The Work Ya! :D

Begitu kata Didit (6 SD) tadi pagi, waktu gw mau berangkat kerja di hari pertama.
hihihi. Ya ampun cute banget anak ini berani ngomong bahasa Inggris walaupun masih salah! Mungkin maksudnya mau bilang "Good luck at work / Have fun at work" kali yaaa?

Terima kasih Dik, I did have fun at work kok. hehehe
Terharu deh pas Mama cerita Didit bilang "Ma, jangan tidur dulu ya, kita tunggu Mba Anggi, aku pengen denger ceritanya soal hari pertama kerja."
Padahal pas gue pulang sih itu bocah udah ngorok dengan bahagia. LOL. Yang penting niatnya mulia deh. hihihi

Sabtu, 03 Desember 2011

Tentang Mama


Jangan berani-berani bilang ga mirip! :P


Baru nulis dua kata tapi mataku sudah berkaca-kaca siap banjir air mata. Huaaa… aku baru baca tweet salah seorang penulis tentang Ibu. Betapa mereka sebenarnya orang yang paling berjasa dan menyayangi kita  tetapi sering terlupakan dibalik sejuta alasan. Sibuk, banyak tugas, sampai agenda-agenda pergaulan yang sebetulnya remeh -temeh.

Tweet mbak Alberthiene Endah itu langsung menusuk hati gue *ini-emang-lebay-tapi-serius* karena memang benar adanya. Contohnya simpel. Kemarin saya berniat mau ikutan proyek #dearmama yang dibuat oleh @nulisbuku. Tapi tinggal sebatas niat, karena selepas deadline, tulisannya—satu huruf pun belum saya ketik. Padahal saya ingin tulisan pertama saya yang dipublikasikan itu tentang Mama. Saya langsung merasa sangaaaat bersalah karena menjadikan mama prioritas kesekian dibandingkan deadline terjemahan naskah serta mengajar.  

“Kita tak tahu betapa sepinya perasaan Ibu yang menjadi penonton bagi kesibukan anak-anaknya tanpa pernah mendengar cerita kita” begitu tulis Mbak Alberthien.. JLEB. Tepat banget.
Jadi, meskipun deadline sudah lewat untuk proyek #dearMama, biarlah postingan blog kali ini saya dedikasikan untuk mama. Judulnya Surat Untuk Mama.

"Mamaku yang cantik, awalnya aku kira menulis surat tentangmu yang masih ada tidak akan menguras air mata seperti saat aku membaca surat dari seorang teman tentang mamanya yang sudah lama tak ada di dunia. Ternyata salah, belum juga menulis pipiku sudah ditetesi air mata.

Mama, maafkan Anggi ya karena selama ini seringkali tidak sadar betapa Mama adalah orang yang menyayangi Anggi tanpa syarat, dalam keadaan apapun. Mama adalah satu-satunya orang yang mau masuk ke kamar Anggi saat kemarin sakit campak dan berbagi makanannya tanpa takut ketularan. Padahal saat itu Anggi lagi pengen-pengennya menghabiskan sebanyak mungkin waktu dengan keluarga sebelum mulai bekerja dan punya kesibukan yang menguras waktu. Aku pengen memeluk semua orang, banyak bercanda, berkumpul di ruang keluarga, nonton Sule atau apapun itu asalkan sama-sama. Tapi sayang si virus morbili itu membuat aku harus dikarantina. Cuma Mama yang nggak takut ketularan. You beat the virus Mom, for my sake. You don’t know how much it means to me J.

Mama juga satu-satunya orang yang bisa mengerti kebingungan Anggi saat memutuskan akan menerima kerjaan sebagai jurnalis atau tidak. Mama pasti sebenarnya berat merelakan aku menerima kerjaan yang memiliki tuntutan tinggi dan mengharuskan aku untuk tinggal di Jakarta. Teman ngerumpi mama kalau di rumah kan cuma aku, hehehe :P.  Tapi mama mengerti bahwa itu cita-cita Anggi sejak dulu, menolak sama saja membuang mimpi yang tinggal selangkah lagi jadi nyata. Restu Mama-lah yang pada akhirnya membuat Anggi yakin bahwa jalan yang kupilih itu benar. Insya Allah.

Mam, rasanya beraaat sekali kalau aku mikir harus ngekos. Membayangkan mama sendirian masak, ngurus rumah, walaupun sebenarnya aku juga nggak banyak bantu waktu di rumah. Mama bangun jam 4 subuh supaya bisa masak dan adik-adik bisa bawa bekal ke sekolah. Aku belum bangun. Mama malah nggak pernah maksa aku bangun pagi-pagi buta buat nemenin Mama masak.

“Mama kan tahu aku kalau tidur kaya binatang ditembak obat bius, nggak ingat apa-apa. Bangunin aja Ma,” begitu kataku.

Tapi mama malah balik meledek dan menjawab “Ah, lebih capek mbangunin kamunya.” Sambil tertawa.

Mama. Aku sayang Mama!!
Maaf dulu aku suka meledek mama yang setiap hari menelepon waktu aku kos, cuma untuk cerita mama masak apa hari ini.  Padahal telepon mama itu bikin aku kangen betul sama rumah dan suasananya yang hangat. Belum lagi masakan mama yang nggak bisa dibandingin sama makanan warteg. Bikin aku pengen pulang terus.

Maaam, biarpun kita sekeluarga suka ledekin cara jalan mama yang-kata papa-“timik-timik” dan perangai mama yang bagaikan putri keraton, sesungguhnya mama adalah role model aku sebagai perempuan. Mama pintar, mama bekerja, mama juga perempuan yang sempurna: lembut, pintar masak, santun, sayang keluarga. Mama meletakan standar yang tinggi banget buat aku. Biarpun kadang narsis, mama tetap idolaku nomer satu. Makanya aku sebel banget kalau ada yang bilang aku nggak mirip mama. Hehehe.

Aaah, pokoknya aku sayang mama. Segini dulu ya suratnya, aku harus kembali mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk gara-gara penyakitan. Hihihi.
Nanti sore kita ngerumpi kaya biasa ya Ma J.
Peluk cium,
Anggi"

Jumat, 25 November 2011

Mimpi

Ada orang yang punya mimpi begitu jelas. Satu mimpi atau cita-cita yang mereka tahu pasti. Ada juga orang seperti gue: punya banyak mimpi, keinginan, sampai bingung mau mewujudkan yang mana terlebih dahulu.

Contoh orang kategori pertama: teman gw Maya dan Nanien. Ibu Maya ini kepengen banget-banget pergi ke Korea, and guess what? Impiannya sudah terkabul: ikutan exchange ke Korea selama 6 bulan aja loooh. Ibu Nanien juga cita-citanya jelas, masalah kerjaan pengennya di tempat yang happy-happy, koneksi internet sederas hujan bulan November di Kota Bogor supaya bisa mendonlot sesuka hati.

Lalu bagaimana dengan kategori orang kedua seperti gueee???!! Ayo ada lagi nggak yang mimpinya berceceran dan bermacam-macam kaya gue???

Pengen jadi jurnalis, ketemu banyak orang, menceritakan banyak kisah, jadi penulis yang bisa mendidik tanpa harus menggurui.

Dulu: Jaman SMP pengen banget jadi jurnalis karena nonton film Korea, keren gitu lho kayanya nyari-nyari berita. Mimpi ini juga didukung setelah nonton sinetron Dunia Tanpa Koma sama baca wawancaranya Rossy sama Ahmadinejad. KEWL!

Alhasil saya pun masuk komunikasi, belajar jurnalistik. Sampai lulus. Sampai jadi pengangguran dan bersahabat dengan LiNa, si matchmaker yang hobi jodoh-jodohin kita sama lowongan kerja.
Hampir semua lowongan berbau jurnalistik dicoba, ralat, nggak semua juga sih...Awalnya ngincer banget kerja di Trans/ Kompas Gramedia karena punya program untuk anak (kayaknya sebagian diri gue memang nggak pernah tumbuh dewasa deh... hehehe). Tapi... HAMPA. Surat cinta menggantung di tangan HRD, atau udah wawancara terus ga dilirik lagi (apakah karena posturku seperti ibu-ibu? haaaaa! :O).
Sampai akhirnya gue ditelepon sama salah satu grup media bonafid dan ikut proses seleksi. Grup media ini terkenal serius dan seleksinya berat... tetapi dengan modal kejujuran dan juga kecengengesan kok ya akhirnya gue lolos gitu yaaa? Gw juga nggak mengerti kenapa bisa diterima. Apakah mereka bisa melihat keseriusan dan kesungguhan hati di balik tampang cengengesan ini? Atau memang ada posisi yang cocok diisi oleh makhluk-makhluk seperti gue?

Sempat agak bingung mau menerima pekerjaan itu atau nggak, karena pertama... ehm masalah gaji yang pas-pasan kalau harus ngekos dsb, dsb (rumah saya jauh sodaraaaa..). Kedua, ayahanda tercinta yang kayaknya kurang sreg anak sulungnya yang dibesarkan untuk menjadi perempuan lembut ini (iya iya.. saya bisa lihat kalian semua muntah :P) bekerja layaknya romusha. Pertimbangan ketiga tentu saja mengenai kecengengesan saya dan resiko pekerjaan ini. Jelas-jelas ini bukan media tempat kita bisa happy-happy tiap hari. Gue juga pengen punya kehidupan keluarga yang sehat, yang seimbang, bahagia. Kaya kehidupan di  keluarga tempat gue dilahirkan. Jadi jurnalis rasanya nggak bisa menjanjikan itu.

Eh, tiba-tiba LiNa mengumumkan ada lowongan Reporter anak di Kompas Gramedia. Sungguh menggoda karena gue cinta banget sama dunia anak. Sampai sekarang pun gue masih setia membaca majalah Bobo setiap minggu, dan masih ingat betul gimana membaca itu membuat gue tahu lebih banyak dari teman-teman SD gue dulu. I LOVE BOBO! Hip hip huraaaa! Reporter anak itu buat gue pekerjaan yang mulia, karena bisa mendidik anak-anak dengan cara yang menyenangkan.

Kerja di majalah anak-anak gitu juga kayaknya lebih fleksibel buat perempuan... topiknya menyenangkan, kerjaannya nggak berbahaya. Masih punya waktu juga untuk keluarga.... Pokoknya hari itu gw hampir mantap memilih menolak pekerjaan sebagai reporter yang sudah gue dapatkan untuk mencoba peruntungan menjadi reporter anak.

Ceritanya sih mantap... tapi kok gw nggak kunjung mantap untuk menelepon mbak HRD dan menyampaikan penolakan ke media itu ya?

Timbul lagi pertanyaan: "Bener nih nggak mau nyoba jadi reporter hard core dulu? Di situ juga ada bagian sosial budayanya lhoo" begitu kata hati kecil gw.

Akhirnya gue memutuskan menerima pekerjaan itu dengan bismillah dan segala doa-doa. Tujuannya untuk belajar, mendapat pengalaman. Gue nggak mau suatu hari nanti merasa berhutang pada diri gue sendiri karena terlalu takut keluar dari zona aman. Salah nggak kalau gue bilang gw menerima pekerjaan ini atas dasar ingin tahu, karena tidak mencoba itu artinya kalah sebelum berperang? Masalahnya kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali. Kalau gue lepas sekarang, bukan nggak mungkin gue akan selamanya penasaran. Gue nggak mau suatu saat nanti, saat gue sudah berkeluarga dan tidak bebas memilih karena tanggung jawab sebagai istri dan ibu membatasi langkah gue, gue membatin: "gimana yaa rasanya jadi jurnalis?". Kalau pertanyaan itu timbul karena saat ini gue terlalu takut mengambil resiko, gue nggak mau itu terjadi. Gue nggak mau punya rasa penasaran yang dibawa sampai mati. hiiiiii....

Lagipula pekerjaan ini pun gue dapat dengan dukungan doa. Gue selalu minta supaya Allah mempertimbangkan kemampuan dan cita-cita gue yang lain.
"Jika kuat dan membawa ke kehidupan yang gue mau (bukan semata karier, tapi termasuk kebahagiaan gue sebagai manusia), maka berilah saya kesempatan, tapi kalau saya tidak kuat dan pekerjaan ini tidak membawa pada kehidupan yang baik, lebih baik jangan." Begitu....

Gue jadi mikir, kalau kemudian gue ketakutan dan memilih mundur, bukankah itu ingkar dengan keputusan-Nya?


Pada akhirnya gue membuat keputusan, jadi jurnalis anak bisa menunggu. Itu kotak aman gue. Kalau gue masuk media anak pasti gue akan merasa nyaman dan terlena, nggak mau nyoba yang lain lagi. Sementara kesempatan ini mengizinkan gue untuk menjelajah. Well, kalaupun ternyata nggak suka dan nggak sreg, selalu ada jalan untuk pulang kan? Lagipula gue masih bisa merintis jalan untuk kerja di media untuk anak dengan jadi penulis lepas atau mengirim cerpen anak-anak, kok. Setuju ga?

Benar nggak sih bahwa kita harus berani keluar dari kotak nyaman kita supaya bisa jadi orang yang lebih baik?
Gue nggak akan bicara soal passion di sini, karena keduanya (jadi jurnalis & jurnalis anak) sama-sama mimpi gue. Ini soal yang mana yang harus diwujudkan duluan.
Atau jangan-jangan gue cuma gadis kebingungan yang tersesat dalam mimpi-mimpinya sendiri??? Hiiii. Ngeri. 


Tolong saya teman-teman >.<

Minggu, 30 Oktober 2011

Benarkah Si Kancil Nakal?

Baru liat video clip Coldplay yang baru: "Paradise". Gajahnya lucu banget (apalagi yang kupingnya pink-polkadot) sekaligus bikin terharu --padahal gue juga ga terlalu yakin maksud lagunya apa. hehee :D. Aaah pokoknya Coldplay selalu juara lah! Ayo dong Om-om konser di sini.




Entah kenapa (mungkin karena tema perbinatangan) sedari awal video ada gajah ngintip dari balik jeruji, gue langsung ingat satu cerpen yang pernah gue buat dengan tema anak-anak. Cerita tentang dongeng kancil yang diinterpretasi ulang (tsaaahhh.... :P).

Selamat menikmati! :) Ditunggu lho kritik dan sarannya. hohoho



Kancil Bukan Anak Yang Nakal
Oleh Anggrita Desyani C


Lampu kamar sudah dimatikan, tetapi Mutti belum bisa tidur. Ia masih memikirkan lomba dongeng di sekolahnya. Mutti ingin ikut lomba itu tetapi belum tahu mau menulis apa.
Tiba-tiba  ia teringat kisah si Kancil yang dibacakan Mama tadi. Tentang hewan yang suka mencuri mentimun, Kancil namanya. Ia suka mencuri metimun di kebun Pak Tani sehingga harus ditangkap.

Hmm… Kenapa Kancil bisa jadi anak yang nakal ya? Hooaahmm… Pikir Mutti, ia sudah mengantuk sekali.
***
Kicau burung yang bersahut-sahutan membangunkan Mutti dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan-lahan, mengerjap-ngerjap karena cahaya matahari yang masuk ke kamarnya sangat terang.

Eh, kok, kasurku berubah menjadi rumput dan daun-daun kering?

Loh loh.. kenapa dinding kamarku berubah menjadi pohon-pohon yang rindang? Pikir Mutti kebingungan.

Mutti mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan badan setelah bangun tidur, tetapi yang terlihat malah sepasang kaki yang kecil dan berbulu.  Hah?! Badannya juga berubah menjadi empuk dan dipenuhi bulu berwarna cokelat! Aku kenapaaaa??! Mutti hampir menangis ketakutan. Tiba-tiba didengarnya suara Mama dan Papa sedang mengobrol.

“Mutti, bangun sayang, sudah pagi…” Mutti hafal sekali suara lembut Mama, tetapi mengapa yang ada di depan mata Mutti adalah sepasang kancil? 

Ah, ternyata keluarga Mutti menjelma menjadi keluarga Kancil!

Begitulah, ternyata Mutti berubah menjadi kancil, begitu juga dengan Mama dan Papa. Evelin, sahabat Mutti, berubah menjadi tupai yang lucu dan tidak bisa diam. Koko, sahabat Mutti yang lain berubah menjadi katak yang cerewet.  Semua orang yang Mutti kenal sudah berubah menjadi binatang. Tempat tinggal mereka juga berubah menjadi hutan dengan pohon-pohon yang rindang. Meskipun awalnya bingung, lama-lama Mutti senang tinggal di hutan itu. Tinggal di sana menyenangkan, selalu ada buah dan dedaunan yang bisa dimakan oleh binatang-binatang yang tinggal di dalamnya. Mereka tidak pernah kelaparan.

Hewan-hewan yang tinggal di hutan itu hidup bahagia sampai suatu hari ada suara ribut dalam hutan itu. Mutti mendengar suara pohon yang jatuh berdebam. Ada pula bunyi yang sangat bising. Kata Papa, itu suara gergaji mesin. Tiba-tiba hutan yang damai itu berubah menjadi hiruk pikuk. Saat Mutti dan teman-temannya mengintip ke sumber keributan, ternyata ada serombongan manusia yang datang dan mendirikan rumah di sana.

Pohon-pohon ditebangi. Terkadang ada pula manusia yang membakar lahan di hutan supaya lebih mudah ditanami. Semakin lama, semakin banyak manusia yang mendirikan rumah di hutan tersebut. Hewan-hewan yang tinggal di sana harus menyingkir karena mereka takut pada manusia. Kalau mereka sampai bertemu manusia, mereka harus cepat-cepat lari. Kemarin Mutti mendengar bahwa Rori si ular tersasar ke tempat tinggal manusia dan akhirnya ditangkap. Sekarang binatang-binatang di hutan itu tidak lagi hidup dengan nyaman dan bahagia.

Koko sang Katak tak pernah bernyanyi lagi. Evelin si tupai sekarang lebih suka sembunyi dalam rumah pohonnya yang aman. Bukan hanya rumah mereka yang tergusur, hewan-hewan di sana juga sulit mencari makanan karena banyaknya pohon yang ditebangi. Mereka jadi kelaparan dan sedih.

Sudah beberapa hari Mutti dan keluarganya tidak mendapat makanan, badan mereka yang dulu empuk karena daging kini kurus kering. Tiga hari lamanya mereka berpindah-pindah tempat untuk mencari makanan, tetapi sia-sia.

Malam harinya, Mutti tidak bisa tidur. Ia meringkuk menahan lapar. Tiba-tiba Mutti  mendengar suara ayah dan ibunya berbisik-bisik.

“Kalian pasti kelaparan.. maafkan Papa ya…” suara Papa terdengar sedih dan lelah. “Sebenarnya tadi siang aku menemukan sebuah kebun yang penuh timun di sebelah barat, tidak jauh dari sini. Tetapi mengajak kalian ke sana terlalu berbahaya, keluarga kita bisa ditangkap Pak Tani, Ma…”

Mutti mendengarkan dengan telinga terangkat. Jadi ada kebun mentimun di dekat sini! Perut Mutti langsung berbunyi membayangkan buah mentimun yang segar dan lezat.  Mutti sudah bertekad, ia akan menyelinap ke kebun itu dan membawa pulang beberapa mentimun segar untuk Mama dan Papa. Kalau tidak, dalam beberapa hari saja mereka semua akan mati kelaparan.
***

Setelah memastikan Mama dan Papa sudah tertidur pulas, Mutti berjingkat dengan perlahan sekali. Ia tidak mau membuat suara yang membangunkan Mama dan Papa. Mereka pasti melarang Mutti pergi ke kebun mentimun. Lagipula, ia hanya akan pergi sebentar, petani-petani itu pasti sedang tidur juga. Seharusnya kebun itu aman di malam hari.

Mutti berjalan ke arah barat, sesuai  kata-kata Papa. Benar saja, tidak sampai sepuluh menit berjalan Mutti melihat sinar di kejauhan. Itu pasti lampu rumah Pak Tani! Pikir Mutti gembira. Sudah terbayang olehnya mentimun yang besar dan berair itu. Ia berjalan semakin hati-hati agar petani-petani itu tidak terbangun. Malam itu sepi sekali, hanya ada suara jangkrik yang sesekali terdengar.

Setelah mengendap-endap, akhirnya Mutti sampai di kebun mentimun milik Pak Tani. Buahnya besar-besar sekali. Hmm… bagaimana caranya ia membawa mentimun-mentimun ini nanti ya? Mutti hanya akan membawa tiga buah yang besar untuk dimakan bersama Mama dan Papa.

Hap hap! Mutti mulai menggigiti tangkai mentimun agar terlepas dan bisa dibawa. Ia tidak menyadari bahwa gerakannya membuat pohon itu berbunyi gemerisik.

“TONG TONG TONG!!!” 

Mutti kaget karena tiba-tiba terdengar suara kentongan yang keras sekali. Ia juga melihat obor-obor bergerak dengan cepat. Gawat! Petani-petani itu bangun!

Mutti segera berlari dengan satu buah mentimun yang berhasil ia ambil. Ia harus cepat-cepat kabur. Ternyata karena ketakutan, ia malah berlari ke arah yang salah dan akhirnya terhenti di depan pagar bambu buatan para petani itu. Papa benar, kebun ini terlalu berbahaya bagi binatang. Putus asa, Mutti mencoba memohon pada petani-petani itu.

 “Kami kelaparan Pak Tani! Aku cuma minta sedikit mentimunmu untuk keluargaku…!!” Jerit Mutti sambil menangis.

Sia-sia saja, petani itu tidak mengerti apa yang dikatakan Mutti. Mereka malah mengurung Mutti dalam kurungan bambu. Mutti menangis semakin keras memanggil Papa dan Mama.
***

“Mutti… Mutti… Bangun sayang…”

Rasanya Mutti mendengar suara Mama.

“Mutti, bangun…”

Mutti membuka matanya yang basah oleh air mata. Keringatnya mengucur deras. “Mamaaa…!” Mutti langsung memeluk Mama.

“Hei… tenang sayang… kamu mengigau. Mimpi buruk ya?” Mama mengusap-usap punggung Mutti yang basah oleh keringat.

“Aku berubah menjadi kancil dan ditangkap Pak Tani Maa! Kancil nggak nakal, mereka kelaparan… Rumahnya di hutan digusur manusia…” Mutti menjelaskan mimpinya dengan napas terengah-engah.

“Iya.. iya.. nanti Mutti ceritakan mimpi Mutti ya. Sekarang cuci muka dulu supaya segar…” kata Mama sambil mengusap kening Mutti yang berkeringat.

Mutti mengangguk, tidak lama kemudian ia tersenyum. Sekarang Mutti tahu akan menulis dongeng apa untuk lomba di sekolah.
***

Rabu, 26 Oktober 2011

FOKUS


Akhirnya gue tahu apa yang membuat surat cinta pada mbak -mas HRD kebanyakan menggantung. Fokus. Gw sering ga fokus

Ini satu kelemahan yang gue tahu sejak lama, tapi baru gue sadari akibatnya fatal sekali. Aaargh!!

Hari ini gue kembali mengikuti proses wawancara dengan satu grup media terkemuka. Jujur, gue pengen kerja disana. Di satu sisi gue bisa banyak belajar dan tahu berbagai hal. Di sisi lain, jadi wartawan kan cita-cita gue dari SMP. Err.. 10 tahun gue kerja keras untuk mewujudkan cita-cita ini. Dan rasanya miris aja kalau kehilangan kesempatan karena diri gue sendiri yang nggak bisa menunjukkan diri dan meyakinkan media-media itu bahwa gw mampu. 

Sebetulnya ada banyak hal yang bisa gue ceritakan tentang pengalaman membuat liputan jurnalistik selama kuliah. Salah satu masterpiecenya adalah liputan tentang feature sepak bola tahun lalu, tentu saja bersama Trio Feature TV :D. *kangen liputan!*





Aaargh  betapa kangennya gw liputan! Meskipun panas-panasan dan bikin gosong, capek, rebutan narasumber sama wartawan profesional...
Tapi ada kepuasan tersendiri saat hasil kerja keras itu dinikmati orang. Membuat orang yang ga tahu jadi berpengetahuan. Plus, tahu banyak hal lebih awal. Hehe

*Oke.. Di sini pun tulisan gw mulai kehilangan fokus kan? Mulai ngalor ngidul. See? *frustasi*

Kembali lagi, yang mau gue tulis hari ini adalah tentang pengalaman mencari kerja. Gue merasa ga cukup membuka diri terhadap pewawancara. Sebenarnya gue bisa cerita mengenai bagaimana gue mampu multitasking. Buktinya dulu kuliah sambil BEM dan alhamdulillah IP tetap bagus. Dua hal itu berhasil. Dulu pas menjalani sih rasanya biasa aja, tapi setelah dipikir-pikir sekarang ternyata oke juga ya. Haha :D
Gue juga sebetulnya ingin cerita tentang liputan apa saja yang sudah pernah gue buat. Hal ini sudah direncanakan sebelum wawancara. 

Eh tadi pagi.. Begitu ketemu pewawancara yg baik dan tinggal sekota,malah lupa cerita. Keasikan ngobrol. Memang sih.. Gue ga suka mengumbar keberhasilan yang berhasil diraih, tapi kalau pas wawancara kerja kan perlu jual diri otak & pengalaman. :D

Ini nih masalahnya. Kalau wawancaranya nyaman gw malah jadi keasikan ngobrol dan lupa mau menyampaikan apa aja tentang diri gw, kalau grogi juga sama: jadi nggak fokus juga -___-"

Mari kita lihat contohnya ya...Hal yang mau gue sampaikan misalnya:

1. gw suka berteman dengan orang? Ya. Tapi kalau masalah kerjaan, gw cukup perfeksionis. Harus bagus. Kalau hasilnya biasa atau di bawah rata-rata mah cuma buang energi dong namanya. Hal lain tentang diri gue: meskipun dari luar kelihatannya ketawa ketiwi tapi gw berani dan mandiri. Contohnya, tahun lalu gw pengen banget ikut festival sastra di Ubud. Akhirnya nekad daftar volunteer sendiri dan cabut sendiri. Toh nanti di sana juga ketemu teman-teman baru. Lihat kan, kalau punya tujuan, gue akan berusaha keras untuk berhasil. Sendiri pun tak apa-apa. hehee..

2. Kasus lain: ngomongin tanggung jawab. Gue pengen bilang bahwa gw orang yang bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang dibuat. Tahun 2010 saat gw jadi deputi PSDM.. gue pengen banget magang dan ikut K2N ke pulau-pulau terluar. Sayang jadwalnya bentrok karena waktu itu tugas PSDM di BEM lagi banyak-banyaknya dan nggak mungkin ninggalin anggota gw begitu saja. So i chose to do what I had comitted to. Jujur gue merasa ini salah satu pembuktian diri bahwa gue punya rasa tanggung jawab.

Kalau ditanya menyesal atau nggak karena ga jadi K2N... Gue tetap berpegang pada pendirian bahwa hidup nggak perlu diputar ulang. Pengalaman baik atau buruk itulah yang membawa kita ke kehidupan sekarang. Nggak usah disesali. Dari situ gue belajar untuk lebih hati-hati mengambil keputusan dan tanggung jawab karena setiap tindakan membawa konsekuensi. Sama halnya dengan sekarang. Gue ga bisa balik dan minta diwawancara ulang karena tadi ga berjalan sesuai rencana kan? Wawancaranya mungkin kacau, tapi dari situ gue bisa belajar tentang diri sendiri.

Nah... kembali lagi ke masalah fokus: tadinya gue mau cerita hal-hal yang tadi disebutkan di atas, tapi kumat lupanya waktu wawancara. -____-
Huaa... jadi merasa berdosa sama diri sendiri. Rasanya seperti menutup pintu kesempatan padahal gue punya kemampuan untuk itu.
Mungkin lain kali gw perlu bikin notes untuk mengingatkan mau bicara apa aja. Kaya kalau mau wawancara narasumber. Perlu juga bikin notes kalau mau diwawancara supaya semua kemampuan itu bisa diterangkan. 

Harapan gw: I don't need to learn it the hard way. Sebetulnya postingan ini punya tujuan terselubung. *ngaku!* Hehe. Semoga pewawancara gw tadi membaca postingan ini ( ^^v ) dan melihat lebih banyak potensi yang gw punya, lalu lolos ke tahap selanjutnya dan punya kesempatan membuktikan bahwa gw mampu jadi wartawan. 


Amiiin. :)