Minggu, 08 Desember 2013

Pak, Bu, Intip IMDB Dulu Yuk Sebelum ke Bioskop

"Mbak Anggi, itu apa-apaan sih film Catching Fire?! Ngapain ada yang bikin film bunuh-bunuhan kaya gitu? Dan yang nonton banyak anak-anak!"



Suatu hari, tante saya tiba-tiba ngomel. Dia gak tahu Catching Fire itu film apa. Tapi, setelah teman-temannya sesama ibu pada ngomel karena anaknya nonton film sadis, 'adu manusia' kata dia, si Tante pun ikut panik.

Sebelum menulis lebih jauh, saya harus bilang kalau saya memang suka trilogi The Hunger Games. Dibanding genre novel dewasa-muda macam Twilight (yang isinya cuma cewek jatuh cinta sama vampir dan ga punya kehidupan lain selain obsesinya sama si vampir berkilau), Hunger Games, buat saya, punya cerita yang jauh lebih dalam dan kuat.

Saya suka bagaimana kisah tentang Panem, Capital, dan 12 distrik yang melarat itu terasa seperti simbol. Panem dan presidennya yang diktator, yang cuma memikirkan diri sendiri ketimbang rakyatnya. Capital, ibu kota yang megah tapi njomplang dengan distrik sekitar. Dan favorit saya, warga Capital yang digambarkan tajir melintir tapi dangkal. Makan minum dari piring emas tanpa sadar hidup mereka ditopang sama orang-orang melarat yang kerja keras. Belum lagi dandanan mereka yang selangit tapi norak. Mungkin menggambarkan sekelompok sosialita yang tantangan tersulitnya adalah "Dapat Hermes incaranku bulan ini ga ya?" (:P)
Padahal ada orang-orang yang buat makan besok saja belum tentu ada uangnya.

Belum lagi reality show The Hunger Games itu sendiri di mana industri televisi jadi alat propaganda. TV jadi semacam kotak ajaib yang bisa memprogram pikiran penduduk Panem. To show them what's hot and what's not, semacam itulah. Ditambah  host Cesar Flickerman (dimainkan dengan apik oleh Stanley Tucci) yang jago memainkan suasana interview. Please, gantiin aja gengnya Olga, Om!

Ya, cerita Hunger Games memang bukan buat anak-anak. Pertanyaannya, kok bisa anak tante saya dan teman-temannya nonton film itu? Jawaban paling gampang, memang dengan nyalahin promosi film yang gencar. Padahal namanya juga industri, tentu saja mereka pengin meraup duit kita sebanyak-banyaknya.

Tapi, Bapak dan Ibu, pernahkah kalian buka Internet Movie Data Base a.k.a IMDB sebelum mengizinkan atau mengajak anak ke bioskop? Saya yakin bapak-bapak dan  ibu-ibu masa kini sudah lancar berinternet, setidaknya buat hal basic seperti browsing atau update media sosial. Apalah susahnya Googling nama film dan buka situs IMDB yang biasanya muncul di hasil pencarian teratas?
Di situ ada sinopsis, rating usia, dan parental advisory yang memberi tahu detail film, dari mulai adegan sadis, kata-kata kasar, sampai adegan intim.


So, parents, please, take just a little of your time to check whether it's proper for your kids or not. 


Jangan cuma bisa marah-marah setelah anaknya nonton film yang ga seharusnya untuk mereka.
Jangan juga ga peduli seperti sepasang orang tua yang membawa tiga anaknya yang masih kecil nonton filmPrisoners-nya Hugh Jackman dan Jake Gyllenhaal. Anak yang paling kecil, mungkin masih berumur 5-6 tahun, teriak-teriak ketakutan sepanjang film. Film itu bagus, tapi sadis, bahkan buat saya yang biasa liputan kriminal.

Dan tahu apa yang dilakukan si ibu? Menyogok anaknya yang paling kecil dengan beliin popcorn, lalu melanjutkan nonton, dan si anak pun lanjut teriak-teriak ketakutan. Haduh. 



Cheers, 

Anggi



Sabtu, 10 Agustus 2013

Space Brother (2012)


Let’s go to space!

credit to farrasya.livejournal.com

Cita-cita bisa berasal dari mana saja: orang tua, film, atau buku anak-anak. Tapi cita-cita kakak beradik Mutta dan Hibito Nanba berawal dari sebuah peristiwa mencengangkan: melihat UFO secara langsung! Piringan cahaya itu mereka lihat melesat di langit malam dengan kecepatan super.  

“Mungkin mirip kunang-kunang yang disuntik steroid,” ujar Mutta bertahun-tahun kemudian

Sejak saat itu, mereka terobsesi menjadi astronot dan pergi ke bulan. Keduanya rajin menyambangi JAXA, semacam pusat pengembangan antariksa milik Jepang. Belasan tahun kemudian, sang adik, Hibito, sukses menjadi orang Jepang pertama yang ikut misi ke bulan. Bagaimana dengan kakaknya, Mutta Nanba? Apakah akhirnya mereka bisa menepati janji untuk bersama-sama melangkah di satelit Bumi itu?

Awalnya saya menonton Space Brother (2012) tanpa disengaja, film itu sedang ditayangkan di televisi kabel ketika saya sampai di kosan. Hibito Nanba (Okada Masaki) yang imut tapi keren segera saja jadi eye candy. Tapi Mutta Nanba yang kribo dan culun itu juga mencuri perhatian. Agak mirip aktor kondang Jepang, tapi siapa ya? Sayang, film keburu tamat sebelum saya ingat siapa aktor yang memerankan Mutta.

Kebiasaan saat kerja membuat saya langsung googling.

Ternyata cerita Space Brother alias Uchuu Kyoudai ini diadaptasi dari serial manga Jepang. Ketika baca reviewnya di internet sih komentarnya terbelah. Ada yang suka banget tapi ada pula yang kecewa karena format film membuat sang sutradara harus berkompromi dengan waktu dan memadatkan jalan ceritanya.

Dan ternyata... Mutta diperankan oleh Shun Oguri yang ngetop lewat peran-peran coolnya. Waks... Shun Oguri jadi kribo dan cupu? Penasaran. Apalagi sutradaranya adalah Yoshitaka Mori, orang yang dulu membuat film Kouhaku (Confession), film psycho thriller tentang balas dendam seorang guru. Salah satu film Jepang terbagus yang pernah saya tonton. Kayaknya film ini harus masuk list wajib tonton.

Akhirnya, berkat sinyal wifi dahsyat di Taman Suropati, saya bisa donlot dan nonton film ini. Yatta! :D

Benar saja, Space Brothers sama sekali enggak mengecewakan. Saya suka pendekatan film fiksi yang dicampur dokumenter soal usaha manusia merambah luar angkasa. Termasuk di antaranya, kilasan gambar Yuri Gagarin (Rusia) yang jadi manusia pertama di luar angkasa pada 1961 dan bagaimana Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy gak mau kalah dari musuh bebuyutannya ketika perang dingin. “We choose to go to the moon!” katanya berapi-api soal misi mengirim orang ke bulan, 1962. Bahkan Buzz Aldrin, yang bersama-sama Neil Armstrong mendarat di bulan, ikut jadi cameo di film ini. Sedap!

Dari segi cerita dan alur, pace ceritanya memang cepat banget. Mulai dari kakak beradik itu masih bocah dan lihat UFO, mereka jatuh cinta sama luar angkasa, dibully, hingga akhirnya si adik betulan jadi astronot hanya diceritakan sekilas. Tapi biarpun singkat, apa yang mau disampaikan menurut saya sih cukup mengena.

Selanjutnya film itu lebih berfokus pada pengalaman Hibito jadi orang Jepang pertama di bulan dan nasib Mutta yang sempat nyangsang jadi desainer mobil. Nah lho, jauh banget melanceng dari cita-citanya menjadi astronot! Yang jelas, saya sih terharu dengan adegan-adegan di bulan. Tentang gimana impian semasa bocah pada akhirnya jadi kenyataan. One of the most incredible feelings in the world!

Intinya, saya suka sama cara sutradara dan penulis skenarionya mengemas film ini. Apalagi ditambah scoring musik yang yahud dan bernada rock and roll. Asyik!

Jadi, silakan tonton sendiri dan cari tahu apakah Mutta dan Hibito Nanba akhirnya bisa berpetualang bareng di bulan. I hope you’d enjoy it like I do. :) 

Cheers,
Anggi




Selasa, 23 Juli 2013

Luntur

credit to Google


Saya ingin bercerita tentang seorang gadis. Indira namanya. Ketika kecil dia suka sekali membaca, terutama cerita-cerita petualangan. Salah satu pengarang favoritnya adalah Enid Blyton yang menulis cerita Lima Sekawan.

Supaya tak terlalu badung, Mama Indira membelikannya seri novel Rumah Kecil di Padang Rumput. Katanya, supaya Indira jadi anak yang manis karena gadis-gadis di dalam buku itu rajin. Maksud Mama mungkin Mary yang penurut dan suka membantu Ma di rumah. Indira memang jadi lebih rajin membantu Mama seperti Mary, paling tidak mencuci piring. Tapi celaka, dia lebih suka Laura yang selalu ingin tahu dan kadang-kadang celaka karenanya.

Tak lama, datanglah Paman Indira yang baru selesai kuliah di Australia. Dia mengenalkan Indira pada komik Tintin. Segera saja gadis kecil itu jatuh cinta pada wartawan Belgia dan anjingnya Snowy.

"Hebat sekali mereka bisa memecahkan misteri dan berkeliling dunia," pikir Indira kecil. Dia juga ingin seperti Tintin yang bisa jalan-jalan ke Mesir, Inggris, Amerika, Kongo, India, dan Cina. Bahkan Tintin yang orang Belgia itu juga sempat ke Indonesia!

"Aku juga mau jadi wartawan!" kata gadis itu dalam hati.


Tahun demi tahun lewat. Indira tumbuh jadi remaja. Di sekolah, dia paling suka pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Setelah lulus SMA, Indira lalu sengaja kuliah di jurusan pilihannya.

"Jurnalistik. Pokoknya kalau tahun ini tidak masuk ya aku coba lagi tahun depan. Tidak mau yang lain," kata Indira saat Mama bertanya kenapa Indira tidak mencari tempat kuliah cadangan seperti teman-temannya. Mama yang lembut hanya bisa berdoa semoga Indira diterima. Anaknya itu memang keras kemauannya.

Untung Indira tak hanya mau, tetapi juga mampu. Nilainya di kampus selalu bagus. Dia lulus dengan nilai A.

Di awal usia 20an, Indira akhirnya bekerja. Jadi wartawan betulan, seperti Tintin. Media yang merekrutnya juga punya nama. Bergengsi.

Papa tidak setuju. Tapi Mama bilang iya (walaupun berat). Mama tahu ini cita-cita Indira sejak dia berkenalan dengan Tintin si wartawan berjambul.

Satu tahun pertama, Indira bahagia. Tugas apapun dia kerjakan. Indira harus bisa membuktikan bahwa dirinya memang pantas jadi wartawan.

Tak sia-sia juga Indira rajin berlatih Bahasa Inggris. Kalau ada wawancara dengan duta besar atau tamu asing, Indira kerap dibawa serta. Tak apa-apalah untuk sementara dia selalu jadi tukang transkrip.

Semua ada fasenya, sabar saja. Indira menyabarkan hati.

Begitu juga saat Indira diminta membuat wawancara khusus dengan Pak Ini atau Bu Itu. Dia kejar sampai dapat. Kadang kalau gagal Indira ingin menangis karena kesal sendiri. Masak begitu saja tidak bisa?

Tetapi ada juga saatnya ketika wartawan yang lebih senior tetap mewawancarai narasumber Indira dengan pertanyaan yang sudah diajukan Indira kemarin. Indira si tukang transkrip tetap dibawa. Mereka tidak percaya. 

Tahun kedua pun datang. Masa bulan madu Indira di tempat kerja mungkin sudah selesai.
Dia mulai bertanya-tanya. 

Kenapa kantor suka sekali narasumber A? 
Kenapa kalau di lapangan menemukan fakta A, kantor ingin fakta A minus? 
Kenapa bos besar ikut forum amplop? Amplop yang katanya barang haram itu? 
Kenapa pertanyaan kantor kadang sok tahu? 
Kenapa kantor suka sekali minta isu seksi padahal masih ada isu-isu yang lebih esensial?
Kenapa? kenapa? kenapa???

Sampai suatu hari Indira tiba di rumah. Malam sudah lewat separuh jalan. Indira kelelahan dan langsung tertidur di sofa ruang keluarga.

Besoknya, Indira duduk di meja makan setelah mandi dan sikat gigi.

"Capek ya Nduk?" Mama berujar lembut.

Indira nyengir sambil mengunyah sarapannya.

"Kayaknya sudah cukup deh kamu cari pengalaman kayak begini..."

Indira tidak bisa menjawab. Tidak berani. Dia hanya meneruskan mengunyah nasi goreng yang kelezatannya kini menurun tiga tingkat.

Mama sudah memberi lampu merah. Otaknya sendiri juga sudah memberi kode, lampu kuning sedikit lagi merah.

Tenggorokan Indira rasanya tercekat.

Dia tidak punya stok pembelaan lagi. Keyakinan atas cita-citanya sendiri sudah luntur. Menetes-netes seperti sisa air di cucian yang menggantung di halaman samping rumahnya. 


Selasa, 23 Juli 2013. 
Ditulis selama 95 menit perjalanan menuju Ibu Kota.

Minggu, 09 Juni 2013

Amour

(Credit to IMDB)


“Semoga langgeng sampai kakek nenek!”  : ) 
Ucapan itu selalu jadi salah satu doa yang wajib diucapkan kalau ada saudara, teman, atau kerabat yang baru menikah. Tapi apa benar cinta bisa dipelihara sampai rambut kita memutih dan tulang kita keropos?

Sutradara Michael Haneke berusaha menampilkan potret itu dalam film berjudul Amour (2012) yang dibintangi aktor veteran Jean-Louis Trintignant dan Emmanuele Riva. Film ini dianugerahi penghargaan film berbahasa asing terbaik di Academy Awards 2013. IMDB memberinya nilai 7,9 sementara kritik di Rotten Tomatoes 93 persen bernada positif. Sungguh membuat penasaran.

Film diawali dengan manis: sepasang kakek nenek menonton resital piano bersama. Setelah itu pulang dengan bus kota dan sesampainya di rumah, keduanya masih bisa saling goda.

“Apa aku sudah bilang kamu cantik sekali hari ini?” kata Georges kepada istrinya Anne sambil membuka mantel.  Lucu betul melihat dua aktor yang sudah keriput itu berinteraksi  seperti pasangan muda. Manis, jadi pengen mencari pria halal  :P.

Tapi Haneke bukan membuat film ini dengan tujuan menghibur. Anda yang tidak tahan dengan adegan-adegan lambat dan hening pasti sejak awal menyerah. Setting film, selain di bagian awal, juga hanya memperlihatkan suasana apartemen Georges dan Anne yang sepi dan berwarna kelam.

Adegannya pun semakin lama semakin suram. Dimulai dari Anne yang tiba-tiba kehilangan kesadaran saat sarapan. Georges panik dan berganti pakaian secepat yang bisa dilakukan lelaki seusianya. Tetapi keran air yang dia tinggalkan dalam keadaan menyala di dapur tiba-tiba dimatikan. Anne sadar lagi. Membuat pasangan itu dan penonton bingung: Anne sakit apa?

Scene langsung meloncat ke saat Anne pulang dari rumah sakit menggunakan kursi roda. Rupanya dia mengalami penyempitan pembuluh darah sehingga stroke dan lumpuh di bagian tubuh sebelah kanan. Dari situ film ini semakin membuat frustasi, kondisi Anne dengan cepat menurun. Padahal hanya Georges yang tersisa untuk mengurusi istrinya. Anak mereka, Eva, tinggal di negara tetangga.

Semakin lama menonton film ini saya semakin sadar bahwa film ini memang bukan untuk menghibur, tetapi benar-benar menggambarkan apa rasanya menjadi tua dan renta.

Menjadi tua itu menyakitkan, kata Haneke melalui scene demi scene. Bukan hanya karena rematik atau keriput. Menjadi tua itu menakutkan karena pada satu titik manusia tidak mampu lagi mengerjakan hal-hal sepele seperti pipis, pakai baju, bahkan makan tanpa bantuan orang lain.

Saya tinggal bersama kakek nenek yang usianya sudah melebihi 70 tahun. Kondisi mereka sebelas dua belas dengan Anne dan Georges.  Dan saran saya, orang yang tinggal dengan manula sebaiknya menonton film ini. Supaya tahu bagaimana rasanya menjadi tua dari kacamata para manula.

Saya jadi ngerti, kenapa nenek saya keukeuh banget gak mau pakai pampers dan maksa mau ke WC sendiri padahal sering jatuh atau ngompol. Atau kenapa kakek saya gak mau ditemenin kalo cukur rambut padahal sesisi rumah khawatir kalo dia keluar sendirian.

Being old hurts their pride. Kira-kira gitu deh bahasa Inggrisnya. Jadi kita yang tinggal bersama orang-orang tua itu juga bisa berempati dan mengerti kelakuan mereka yang sering bikin kesel sendiri.

Tapi pada akhirnya Amour tetaplah film yang membutuhkan drama. Endingnya cukup bikin saya menahan napas. Mengembalikan misteri yang ditempelkan Haneke di pembukaan filmnya:

Cinta itu apa?



Cheers!
Anggi :)


Kamis, 06 Juni 2013

Macet

Sebastian Vettel atau Michael Schumacher boleh jadi jagoan menyetir jet darat. Kemampuan mereka membuat manuver di tikungan hingga take over pastinya enggak perlu diragukan. Tapi kalau mereka dicemplungkan di kemacetan Jakarta, saya nggak yakin mereka mampu bersaing dengan sopir-sopir bis kota.

Saya membuat tulisan ini di atas bus 213 jurusan Grogol-Kampung Melayu. Sebagai sesama pengendara, saya angkat topi. Kemampuan mereka menembus macet itu gila.

Bus yang saya naiki sekarang bisa dengan lincahnya bergerak di Jalan Sudirman yang malam ini keadaannya mirip es cendol kurang kuah: padat. Tapi body bus impor dari Jepang yang berukuran besar itu bisa gesit menyelip dari jalur lambat-ke jalur cepat-ke jalur busway-jalur cepat lagi-lalu kembali ke jalur lambat.

"Gila," pikir saya.
City car yang digembar-gemborkan berbody singset dan lincah di dalam kota itu kalah total. Semua masih berbaris rapi di jalurnya. Yah, beberapa memang ngomel lewat raungan klakson. Tapi toh bis saya tetap nyelonong. Hehe

Yang terpikir di otak saya cuma satu:
Kota ini sakit. Enggak heran kalau penduduknya berlomba-lomba kabur, plesir ke kota terdekat kapanpun ada kesempatan. Weekend, longweekend, libur kejepit, you name it.

Membuat penduduk kota satelit seperti saya makin nelangsa. Setiap hari kerja di Jakarta kena macet. Libur dan pulang ke Bogor pun tetap kena macet. Nasib. Makin sedih lagi karena sudah enggak kenal yang namanya weekend, long weekend atau tanggalan merah (Well, yang ini sih masalah saya sendiri ya, hehe).

Terus terang aja saya sudah kekenyangan sama macet. Kalau ngobat mungkin sedikit lagi overdosis.

Bukan apa-apa, tuntutan pekerjaan membuat sebagian besar waktu habis di jalan. Kalau Anda melakukan perjalanan untuk pergi ke kantor, buat saya jalanan adalah bagian dari kantor. Jadi macet itu makanan setiap waktu, hahaha *gigit bantal :S

Makanya saya paling semangat menulis berita tentang transportasi umum.  Lalu ngobrol dengan pengamat transportasi. Setidaknya ada harapan bahwa kota ini mau berbenah.

Di atas kertas memang kelihatannya ada harapan, tapi kok setiap hari rasanya makin macet. Perjalanan makin lama. Apa yang salah?

Nih ya, Transjakarta koridor I Blok M-Kota busnya sudah banyak. Dingin. Nyaman. Cepat.

Salah satu kebahagiaan naik busway di koridor 1 adalah bisa dadah-dadah sama orang dalam mobil yang mandek di jalanan. "Permisi, saya duluan ya," rasanya pengen bilang gitu sambil nyengir superlebar karena bus saya bisa melaju kencang.

Tapi ternyata gak semua orang berpikir seperti saya. Toh kendaraan pribadi tetap merajalela. Busway lengang , jalanan padat. Padahal isi mobil-mobil itu paling banyak dua atau tiga orang.

Lihat saja, di Sudirman, jalur lambat adalah jalur neraka. Kecepatan satu kilometer per jam pun gak sampai. Jalur cepat masih agak lumayan, bisa lah mobil melaju sampai 30 kilometer perjam. Busway lancar jaya (cuma di koridor I, koridor lain jalur masih ga steril dan busnya sedikit).

Tapi hujan berarti pengecualian. Mobil-mobil biasanya masuk jalur busway, akibatnya bus ikut mandek. Saya pernah mengalami naik busway dari Sarinah hingga Bundaran HI (hanya berjarak dua halte) dalam waktu hampir satu jam. Rasanya mau nangis, mau maki-maki orang yang naik mobil itu.

"Saya sudah berusaha tidak menambah kemacetan dengan naik kendaraan umum. Kenapa jalan saya masih diembat juga sementara kalian naik mobil berAC, bisa setel lagu, duduk dengan nyaman, tetap cantik, ganteng, dan wangi begitu sampai tujuan? Terus kalau macet gara-gara kalian saya harus tetap kena getahnya?!" Kira-kira pingin ngomel seperti itulah.

Yah, kalau menurut pengamat Masyarakat Transportasi Indonesia, Danang Parikesit, perjalanan dengan kendaraan pribadi itu gak efektif. Jalan penuh mobil tapi manusia yang terangkut hanya sedikit. Pengamat lainnya juga berpendapat serupa.

Saya tambah ngomel. "Pada ketinggian gengsi nih orang-orang yang naik mobil pribadi." (Plus omelan-omelan lainnya).

Tapi lalu saya naik kendaraan umum lagi.
Ketemu preman berkedok pengamen.
Ketemu copet.
Kena macet di bus non-AC dengan posisi akrobatik karena terjepit.
Naik kereta, sering telat atau mogok lalu penyet saking penuhnya .
Turun angkutan, jalan di trotoar, ngomel lagi karena penuh pedagang, rusak, jadi tempat parkir atau dikuasai motor.

Lalu meratapi nasib.

Terus saya jadi mikir: Mungkin memang pejalan kaki dan pengguna angkutan umum itu warga negara prioritas paling akhir di negara ini. Makanya kalau punya uang lebih sedikit, langsung pengen kredit motor atau mobil. Supaya naik kasta.

Nah kan, ngomel lagi. :'D



Ps: tulisan ini dibuat selama 1 jam 20 menit.
Jarak tempuh: Bendungan Hilir-Dukuh Atas pakai bus. Disambung kereta menuju Bogor, dan baru sampai Depok.

*tarik napas buang napas*

Selasa, 26 Maret 2013

Si Kereta Ekonomi


Hari ini, setelah sekian lama akhirnya saya naik kereta ekonomi lagi. Bukan karena lagi liputan rencana penghapusan KRL ekonomi, tetapi memang yang jadwal keberangkatannya pas adalah kereta itu.

Begitu naik, rasanya kaya nostalgia. Soalnya rangkaian dari besi tua itu dulu setiap hari mengantarkan saya ke kampus. Saya masih ingat betul bagaimana penuh dan sesaknya kereta itu. Bagaimana bau keringat ratusan manusia dan kadang bau kopling kereta yang menyengat menggantung di udara. Bau itu saya hirup setiap hari, pagi dan sore. Membuat mahasiswa dari Bogor datang ke kampus dengan lecek, beda dengan mahasiswa dari arah Jakarta yang masih segar dan wangi.

Dulu, kami (geng kereta) berkelakar, "Pokoknya kalau sudah lulus kita harus naik tingkat, enggak boleh naik kereta ekonomi lagi." Kesampaian. Saya dan teman-teman saya sekarang jauh lebih sering naik Commuter Line. Selain sudah mampu beli tiketnya, toh jumlah kereta ekonomi yang beroperasi juga semakin sedikit, mendekati punah.

Tapi jangan salah, meskipun agak traumatis, sebenarnya naik kereta ekonomi itu bisa membuat saya lebih banyak bersyukur. Bersyukur bahwa saya masih mampu naik kereta meskipun harga tiketnya naik terus: dari Rp 6.000 jadi Rp 7.000, lalu sekarang Rp 9.000. Bersyukur bahwa ongkos yang lebih mahal itu enggak lantas membuat saya melarat.

Bahwa ketika barang saya rusak, saya bisa segera menggantinya. Hal-hal kecil yang kadang terlupa kalau saya sedang sibuk membandingkan diri dengan si A yang kariernya lebih pesat, dengan si B yang setiap hari bekerja di kantor yang nyaman, bukannya berpeluh di jalanan Jakarta.

Membuat saya bersyukur karena pekerjaan ini--meskipun berat-- bisa membuat saya tetap menjejak tanah dan melihat ke bawah. Bertemu orang-orang yang cobaan hidupnya lebih berat. Yang harus berpikir apakah besok bisa makan, apakah anaknya bisa sekolah, apakah bisa berobat kalau jatuh sakit. Tetapi di lain waktu pekerjaan ini juga memberi saya kesempatan bertemu orang-orang hebat, membuat saya ingin sehebat mereka.

Kembali lagi ke masalah kereta ekonomi, saya setuju banget kalau kereta ini sudah enggak layak dan lebih baik dipunahkan. Soalnya pintu kereta itu malah sering dijadikan tempat bermain oleh remaja tanggung yang menganggap akrobat di pintu kereta itu keren, berani. Mungkin mereka belum mampu untuk berpikir bahwa kalau terpeleset mereka akan mati sia-sia. Belum bisa menghargai orang tua mereka yang akan hancur kalau anaknya, yang dia hidupi dengan banting tulang, mati konyol karena jatuh dari kereta.

Tetapi kalau kereta ini jadi ditarik, lalu apa gantinya? Kereta AC dengan tarif Rp 8.000? Buat orang yang memang harus naik kereta ekonomi, selisih itu besar sekali. Harga tiket yang naik bisa membuat mereka tambah sengsara, bukan sekedar harus memangkas biaya rekreasi.

Lalu saya jadi ingat, pekerjaan saya ini juga bisa bikin patah hati. Kenapa ya pemerintah bisa membiayai subsidi BBM yang biayanya ratusan triliun padahal habis sia-sia waktu macet? Kenapa uang sebanyak itu enggak bisa sebagian saja disisihkan supaya orang-orang yang hanya mampu bayar Rp 2.000 itu juga bisa naik kereta yang pintunya tertutup dan berpendingin udara?