Amour

(Credit to IMDB)


“Semoga langgeng sampai kakek nenek!”  : ) 
Ucapan itu selalu jadi salah satu doa yang wajib diucapkan kalau ada saudara, teman, atau kerabat yang baru menikah. Tapi apa benar cinta bisa dipelihara sampai rambut kita memutih dan tulang kita keropos?

Sutradara Michael Haneke berusaha menampilkan potret itu dalam film berjudul Amour (2012) yang dibintangi aktor veteran Jean-Louis Trintignant dan Emmanuele Riva. Film ini dianugerahi penghargaan film berbahasa asing terbaik di Academy Awards 2013. IMDB memberinya nilai 7,9 sementara kritik di Rotten Tomatoes 93 persen bernada positif. Sungguh membuat penasaran.

Film diawali dengan manis: sepasang kakek nenek menonton resital piano bersama. Setelah itu pulang dengan bus kota dan sesampainya di rumah, keduanya masih bisa saling goda.

“Apa aku sudah bilang kamu cantik sekali hari ini?” kata Georges kepada istrinya Anne sambil membuka mantel.  Lucu betul melihat dua aktor yang sudah keriput itu berinteraksi  seperti pasangan muda. Manis, jadi pengen mencari pria halal  :P.

Tapi Haneke bukan membuat film ini dengan tujuan menghibur. Anda yang tidak tahan dengan adegan-adegan lambat dan hening pasti sejak awal menyerah. Setting film, selain di bagian awal, juga hanya memperlihatkan suasana apartemen Georges dan Anne yang sepi dan berwarna kelam.

Adegannya pun semakin lama semakin suram. Dimulai dari Anne yang tiba-tiba kehilangan kesadaran saat sarapan. Georges panik dan berganti pakaian secepat yang bisa dilakukan lelaki seusianya. Tetapi keran air yang dia tinggalkan dalam keadaan menyala di dapur tiba-tiba dimatikan. Anne sadar lagi. Membuat pasangan itu dan penonton bingung: Anne sakit apa?

Scene langsung meloncat ke saat Anne pulang dari rumah sakit menggunakan kursi roda. Rupanya dia mengalami penyempitan pembuluh darah sehingga stroke dan lumpuh di bagian tubuh sebelah kanan. Dari situ film ini semakin membuat frustasi, kondisi Anne dengan cepat menurun. Padahal hanya Georges yang tersisa untuk mengurusi istrinya. Anak mereka, Eva, tinggal di negara tetangga.

Semakin lama menonton film ini saya semakin sadar bahwa film ini memang bukan untuk menghibur, tetapi benar-benar menggambarkan apa rasanya menjadi tua dan renta.

Menjadi tua itu menyakitkan, kata Haneke melalui scene demi scene. Bukan hanya karena rematik atau keriput. Menjadi tua itu menakutkan karena pada satu titik manusia tidak mampu lagi mengerjakan hal-hal sepele seperti pipis, pakai baju, bahkan makan tanpa bantuan orang lain.

Saya tinggal bersama kakek nenek yang usianya sudah melebihi 70 tahun. Kondisi mereka sebelas dua belas dengan Anne dan Georges.  Dan saran saya, orang yang tinggal dengan manula sebaiknya menonton film ini. Supaya tahu bagaimana rasanya menjadi tua dari kacamata para manula.

Saya jadi ngerti, kenapa nenek saya keukeuh banget gak mau pakai pampers dan maksa mau ke WC sendiri padahal sering jatuh atau ngompol. Atau kenapa kakek saya gak mau ditemenin kalo cukur rambut padahal sesisi rumah khawatir kalo dia keluar sendirian.

Being old hurts their pride. Kira-kira gitu deh bahasa Inggrisnya. Jadi kita yang tinggal bersama orang-orang tua itu juga bisa berempati dan mengerti kelakuan mereka yang sering bikin kesel sendiri.

Tapi pada akhirnya Amour tetaplah film yang membutuhkan drama. Endingnya cukup bikin saya menahan napas. Mengembalikan misteri yang ditempelkan Haneke di pembukaan filmnya:

Cinta itu apa?



Cheers!
Anggi :)


Komentar

Entri Populer