Si Kereta Ekonomi


Hari ini, setelah sekian lama akhirnya saya naik kereta ekonomi lagi. Bukan karena lagi liputan rencana penghapusan KRL ekonomi, tetapi memang yang jadwal keberangkatannya pas adalah kereta itu.

Begitu naik, rasanya kaya nostalgia. Soalnya rangkaian dari besi tua itu dulu setiap hari mengantarkan saya ke kampus. Saya masih ingat betul bagaimana penuh dan sesaknya kereta itu. Bagaimana bau keringat ratusan manusia dan kadang bau kopling kereta yang menyengat menggantung di udara. Bau itu saya hirup setiap hari, pagi dan sore. Membuat mahasiswa dari Bogor datang ke kampus dengan lecek, beda dengan mahasiswa dari arah Jakarta yang masih segar dan wangi.

Dulu, kami (geng kereta) berkelakar, "Pokoknya kalau sudah lulus kita harus naik tingkat, enggak boleh naik kereta ekonomi lagi." Kesampaian. Saya dan teman-teman saya sekarang jauh lebih sering naik Commuter Line. Selain sudah mampu beli tiketnya, toh jumlah kereta ekonomi yang beroperasi juga semakin sedikit, mendekati punah.

Tapi jangan salah, meskipun agak traumatis, sebenarnya naik kereta ekonomi itu bisa membuat saya lebih banyak bersyukur. Bersyukur bahwa saya masih mampu naik kereta meskipun harga tiketnya naik terus: dari Rp 6.000 jadi Rp 7.000, lalu sekarang Rp 9.000. Bersyukur bahwa ongkos yang lebih mahal itu enggak lantas membuat saya melarat.

Bahwa ketika barang saya rusak, saya bisa segera menggantinya. Hal-hal kecil yang kadang terlupa kalau saya sedang sibuk membandingkan diri dengan si A yang kariernya lebih pesat, dengan si B yang setiap hari bekerja di kantor yang nyaman, bukannya berpeluh di jalanan Jakarta.

Membuat saya bersyukur karena pekerjaan ini--meskipun berat-- bisa membuat saya tetap menjejak tanah dan melihat ke bawah. Bertemu orang-orang yang cobaan hidupnya lebih berat. Yang harus berpikir apakah besok bisa makan, apakah anaknya bisa sekolah, apakah bisa berobat kalau jatuh sakit. Tetapi di lain waktu pekerjaan ini juga memberi saya kesempatan bertemu orang-orang hebat, membuat saya ingin sehebat mereka.

Kembali lagi ke masalah kereta ekonomi, saya setuju banget kalau kereta ini sudah enggak layak dan lebih baik dipunahkan. Soalnya pintu kereta itu malah sering dijadikan tempat bermain oleh remaja tanggung yang menganggap akrobat di pintu kereta itu keren, berani. Mungkin mereka belum mampu untuk berpikir bahwa kalau terpeleset mereka akan mati sia-sia. Belum bisa menghargai orang tua mereka yang akan hancur kalau anaknya, yang dia hidupi dengan banting tulang, mati konyol karena jatuh dari kereta.

Tetapi kalau kereta ini jadi ditarik, lalu apa gantinya? Kereta AC dengan tarif Rp 8.000? Buat orang yang memang harus naik kereta ekonomi, selisih itu besar sekali. Harga tiket yang naik bisa membuat mereka tambah sengsara, bukan sekedar harus memangkas biaya rekreasi.

Lalu saya jadi ingat, pekerjaan saya ini juga bisa bikin patah hati. Kenapa ya pemerintah bisa membiayai subsidi BBM yang biayanya ratusan triliun padahal habis sia-sia waktu macet? Kenapa uang sebanyak itu enggak bisa sebagian saja disisihkan supaya orang-orang yang hanya mampu bayar Rp 2.000 itu juga bisa naik kereta yang pintunya tertutup dan berpendingin udara?

Komentar

Postingan Populer